TEORI KOMUNIKASI


Defenisi

Deddy Mulyana
Suatu usaha untuk menerangkan atau menggambarkan pengalaman, suatu ide tentang bagaimana peristiwa tertentu terjadi.
 
Kerlinger
Seperangkat konsep, defenisi, dan proposisi yang saling berhubungan yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik atas fenomena dengan menjabarkan hubungan-hubungan dengan tujuan menjelaskan dan meramalkan fenomena tersebut.
 
Rusidi
Seperangkat konsep(dan atau variabel-variabel) yang berhubungan satu sama lain yang menunjukkan fenomena secara sistematis dalam hubungan kausalitas dengan tujuan menerangkan atau menjelaskan (explanasi) dan meramalkan (prediksi) fenomena-fenomena 

FUNGSI TEORI

1. Menggambarkan atau mendeskripsikan (explanation),
2. Mengabstraksikan (generalization)
3. Mempertautkan diantara sebab akibat yang timbul dalam realitas yang ada(causalitas).

Unsur-unsur Teori
1. Konsep, adalah abstraksi yang menggeneralisasikan hal-hal yang khusus atau kongkret yang disusun secara
sistematis dan logis dengan memadukan ciri-ciri dan fakta terkait.
Ada 2 jenis konsep:
Yang jelas hubungannya dengan fakta, misalnya meja, badan, mobil dll
Yang lebih abstrak atau lebih kabur hubungannya dengan fakta, misalnya kekerabatan, sosialisasi, dll.
2. Keterpautan (relationship), hubungan yang secara fungsional ditentukan antara konsep-konsep.
3. Penjelasan(explanation),
4. Pernyataan nilai (value statement)

 PENGKLASIFIKASIAN TEORI

TEORI

TEORI UMUM (GRAND THEORIES)
1. Struktural dan Fungsional
2. Kognitif dan behavioral
3. Interaksionis
4. Interpretif
5. Teori kritis

TEORI KONTEKTUAL (CONTEXTUAL THEORIES
1. Intrapersonal
2. Interpersonal
3. Kelompok
4. Massa
5. Organisasi

Deddy Mulyana memandang persfektif komunikasi sebagai suatu pendekatan dan membaginya menjadi PENDEKATAN OBJEKTIF DAN SUBJEKTIF.

SUBJEKTIF

Behaviorisme (teori S-R),
-Teori Belajar sosial,
-Teori Perbedaan Individu
-Teori Penggolongan Sosial
-Agenda Setting
-Use and gratifications

OBJEKTIF
-Etnometodologi,
-Semiotik
-Analisis wacana
-Kajian budaya
-Pendekatan kritis
-INTERAKSIONISME SIMBOLIK

TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
Beberapa tokoh dari teori ini adalah Robert K. Merton & Talkot Parson.

Arti Struktur mengacu pada pengulangan aktivitas atau prilaku anggota masyarakat yg telah diorganisasikan dan Arti Fungsi mengacu pada sumbangan dari sebagian bentuk perulangan aktivitas prilaku anggota suatu masyarakat dlm menangani (mempertahankan) stabilitas atau keseimbangan masyarakat.
 
Struktural fungsional adalah sebuah teori yang menjelaskan berbagai kegiatan yang melembaga (institutionalized) dalam kaitannya dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat dilihat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan atau sub sistem. Setiap sub sistem tersebut memiliki peran yang berarti. Salah satu sub sistem tersebut adalah media. Media diharapkan dapat menjamin integrasi ke dalam ketertiban dan memiliki kemampuan memberikan respon terhadap kemungkinan baru yang didasarkan pada realitas yang sebenarnya.

Pokok-pokok perspektif fungsionalisme struktural adalah: Pokok-pokok perspektif fungsionalisme struktural adalah:

-Masyarakat dpt diartikan sbg suatu sistem yg didalamnya memiliki subsistem-subsistem sbg unsur yg saling
berhubungan.
-Masyarakat secara alamiah cenderung mengarah pada suatu keseimbangan yg dinamis.
-Seluruh perulangan aktivitas atau prilaku dlm suatu masyarakat memberikan kontribusi ke arah terbentuknya suatu
keadaan yg seimbang.
-Hanya ada beberapa bagian kecil saja dari perulangan aktivitas maupun pola prilaku dalam suatu masyarakat yg
nampaknya tdk dapat dihindari; karena itu maka dalam suatu masyarakat ada fungsi yg harus menjadi syarat mutlak
sebagai penunjang seluruh sistem kalau dalam keadaan yg kritis kerena tampa itu sistem akan terganggu.(Robert K.
Merton)

Beberapa alasan yang menunjang penggunaan perspektif struktural fungsional dalam kajian komunikasi:
-Menyajikan kerangka berpikir untuk membahas hubungan antara media massa dengan masyarakat dan seperangkat
konsep yang sulit untuk diganti,
-Membantu memahami kegiatan utama media dalam kaitannya dengan beberapa asfek struktur dan proses sosial,
-Menciptakan jembatan antara pengamatan empiris tentang institusi media dengan teori normatif yang membahas
peran yang seharusnya dibawakan oleh media.

Fungsi media dalam masyarakat:
-Informasi: menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dan dunia, menunjukan hubungan kekuasaan, memudahkan inovasi, adaptasi dan kemajuan.
-Korelasi: menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa dan informasi. Menunjang otoritas dan norma-norma yang mapan. Melakukan sosialisasi. Mengkoordinasikan beberapa kegiatan. Membentuk kesepakatan. Menentukan urutan prioritas dan memberikan status relatif.
-Kesinambungan: mengepresikan budaya dominan dan mengakui keberadaan kebudayaan yang khusus serta -perkembangan budaya baru. Meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai.
-Hiburan: menyediakan hiburan, pengalihan perhatian dan sarana relaksasi. Meredakan ketegangan sosial.
-Mobilisasi: mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, pembangunan ekonomi, pekerjaan dan kadang kala juga dalam bidang agama.

TEORI KOGNITIF & BEHAVIORISME
Merupakan pendekatan dalam psikologi yg cenderung memusatkan perhatiannya pada diri manusia secara individual. Salah satu pemikiran yang terkenal adalah model S-R. Yang menggambarkan proses informasi antara stimulus dengan response. Komunikasi menurut pandangan ini dianggap seagai manifestasi dari tingkah laku, proses berpikir dan fungsin bio-neural dari individu.

Postulat tentang perspektif Kognitif:
-Keanggotaan seseorang dlm suatu masyarakat dapat dipahami sebagai sikap yg aktif kerena ia menerima nasukan, pengaruh, rangsangan dari luar.
-Proses kognitif memungkinkan setiap orang untuk mengalirkan sensor-sensor pancaindra baik sebagai masukkan maupun keluaran melalui pemberian kode, simbol, tanda yg melambangkan sesuatu kemudian menyimpannya, menginterpretasikannya secara selektif dan digunakan untuk pengambilan keputusan bagi prilaku tertentu.
-Proses kognitif merupakan sebagian kecil dalam pembentukkan prilaku seseorang misalnya persepsi, kemampuan untuk membayangkan, sistem kepercayaan, sikap, nilai-nilai yg cenderung mengarah pada keseimbangan terhadap pelbagai faktor lain yg diterima seseorang.
-Komponen kognitif yg diterima oleh organisasi mental seseorang merupakan hasil dari proses belajarnya terlebih dahulu baik dengan sengaja maupun kebetulan dipengaruhi oleh keadaan sosial maupun diri sendiri.

Perspektif behaviorisme mengemukkan pandangan bahwa meskipun pikiran manusia, kepercayaan, pendapat serta keyakinannya merupakan kontruk mental tetapi mustahil dapat teruji, maka ada prilaku-prilaku nyata tertentu yang keluar sebagai wakil dari kontruk mental yang tidak kelihatan. 

Perspektif ini sangat luas cakupannya, selain bisa menjelaskan bentuk komunikasi massa dengan khalayaknya, juga hubungan antara pesan-pesan dari komunikasi antar pribadi, kelompok.

INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Teori ini berpandangan bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara serta menguah kebiasaan tertentu, termasuk dalam hal ini bahasa dan simbol-simbol. Fokus pengamatan teori ini tidak terhadap struktur, tetapi tentang bagaimana bahasa dipergunakan untuk membentuk struktur sosial serta bagaimana bahasa dan simbol-simbol lainnya direproduksi, dipelihara, serta diubah dalam penggunaannya.
Kehidupan manusia dilingkupi dengan beraneka macam symbol, manusia tidak mungkin hidup tampa symbol.

Ernes Cassirer menjuluki manusia sebagai binatang yang menggunakan symbol (animal simbolicum). 
Tekanan dari teori ini pada hubungan atau interaksi antara bahasa dengan symbol interaksi dari peranan, sikap, self dengan memusatkan perhatian mewujudkan adanya interaksi proses social Demi tercapainya kesamaan pikiran (the common of meaning).
Sebagai teori interaksionisme simbolis memandang Prilaku merupakan hasil dari setiap individu dalam hubungan sosialnya dengan orang lain. Kebutuhan manusia dapat diinterpretasi atau didefenisikan melalui penggunaan symbol yang mewakili kata-kata dalam sistem bahasa yang dipelajari manusia

Paradigma interaksionisme simbolik secara ringkas dapat dijelaskan sbb:
-masyarakat dapat dipahami sebagai suatu sistem yang mempunyai arti dan makna tertentu. (simbol-simbol yang pada akhirnya menimbulkan pengertian bersama),
-Dari pandangan perilaku tertentu terlihat kenyataan social secara fisik maupun alamiah sebenarnya dibentuk dari proses suatu susunan pengertian saja.
-Perjanjian antara setiap orang tentang ide-ide yang dimiliki bersama dengan orang lain, maupun kepercayaan tentang diri mereka tidak lain merupakan konstruksi pengertian/pemahaman yang dibentuk oleh proses interaksionisme simbolis,
-Norma-norma pribadi yang muncul dalam prilaku pada suatu situasi tertentu pada dasarnya dipandu oleh cirri khas bagaimana orang itu menghubungkan pemahamannya dengan situasi tersebut.

TEORI KRITIS DAN INTERPRETATIF
Mengacu pada pandangan Sasa Sendjaja 2002. bahwa kelompok teori ini gagasanya banyak berasal dari berbagai tradisi, seperti sosiologi interpretatif, pemikiran Max Weber, phenomenology dan hermeneutics, Marxisme dan aliran Frankfrut. Teori ini dalam konteks komunikasi seperti sosiologi komunikasi, hukum komunikasi dan hukum media, komunikasi antar budaya, komunikasi politik, komunikasi organisasi, semiotika komunikasi dsb.

Beberapa karakteristik dari teori ini:
-Penekanan terhadap peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual,
Makna atau meaning merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered atau dasar pemahaman makna, dalam hal ini bahasa menjadi konsep sentral karena bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia.
-Pendekatan teori interpretatif cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan absolut tentang fenomena yang diamati. Pengamatan hanyalah sesuatu yang bersifat tertatif dan relatif. Sementara teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan absolut, preskriptif dan politis sifatnya.

TEORI USES &GRATIFICATIONS (Kegunaan dan Kepuasan)
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974).

Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Teori ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan Media pada diri orang tetapi ia tertarik pada apa yang dilakukan orang terhadap media, dengan perkataan lain Bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan prilaku tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak.
Jadi bobotnya ialah pada khalayak yang aktif dan sengaja menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya.
Teori ini digambarkan sebagai suatu loncatan dramatis dari model jarum hipodermik
Katz, Blumler, Gurevitch. 1974, merumuskan asumsi dasar dari teori ini:
-Khalayak dianggap aktif; artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan,
-Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media
terletak pada anggota khalayak,
-Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya,
-Banyak tujuan memilih media massa,
-Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.

Model Uses & Gratifications

TEORI AGENDA SETTING
-Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972).
-Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi
khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi
masyarakat.Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat. Fungsi agenda setting media massa
adalah kemampuan media massa untuk memilih dan menekankan isu-isu tertentu sehingga isu2 tersebut dianggap
dianggap penting oleh khalayak.
Teori ini lahir sebagai kritik terhadap teori Uses & Gratification, karena melebih-lebihkan rasionalitas, aktivitas komunikan dan melupakan karakteristik stimuli.Agenda Setting menghidupkan kembali model jarum hipodermik tetapi lebih fokus pada penelitian yang telah bergeser dari Asfek Afektif ke Kognitif dari sikap ke kesadaran dan dari pendapat ke Pengetahuan.

CULTIVATION THEORY (TEORI KULTIVASI)
-Robert L. Heat. 2005
-Cultivations berarti penguatan, pengembangan, perkembangan, penanaman.
-Terpaan media (khususnya televisi) mampu memperkuat persepsi khalayak terhadap realitas sosial. Semakin banyak
waktu seseorang dihabiskan untuk menonton televisi, semakin seseorang itu menganggap bahwa realitas sosial sama
dengan yang digambarkan televisi.
-Teori ini menilai televisi memiliki dampak lebih jauh tentang tindakan-tindakan kejahatan yang ditayangkannya.
-Teori ini memandang media khususnya televisi merupakan sarana utama untuk belajar tentang masyarakat dan
budaya, melalui televisi anda bisa belajar dunia, orang-orang, nilai-nilainya serta adat kebiasan.

DIFFUSION OF INNOVATION THEORY (TEORI DIFUSI INOVASI)
-Everett M. Rogers.
-Teori ini meneliti bagaimana ide-ide baru, hal praktis atau objek diadopsi oleh individu dan organisasi.
-Difusi adalah suatu jenis komunikasi khusus yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru.
-Inovasi diartikan sebagai ide-ide, gagasan-gagasan atau teknologi baru.
Teori difusi inovasi akhir-akhir ini banyak digunakan sebagai pendekatan dalam komunikasi pembangunan, terutama dinegara berkembang atau dunia ketiga.
Berdasarkan tingkatan kesiapan dalam menerima ide-ide baru, dapat dikelompokan menjadi:
Inovator
1.Early adopter,
2.Early Majority,
3.Late majority
4.Laggard.

SEMIOTICS THEORY (TEORI SEMIOTIKA)
Roland Barthes.
Semiotika menjelaskan tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi di luar tanda itu sendiri.

Konsep dasar dari teori ini:
-Tanda didefenisikan sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukkan beberapa kondisi lain, seperti asap menandakan adanya api,
-Simbolbiasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti.
Semiotika mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Isi media pada hakikatnya adalah hasil kontruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya.
Dalam semiotika dikenal istilah denotasi, konotasi dan mitos. Denotasi adalah interaksi antara signifier (penanda) dengan signified (petanda). Denotasi dijelaskan sebagai makna sebuah tanda yang mudah dilihat dan dipahami. Atau makna denotasi adalah apa yang dijelaskan dalam kamus.
Konotasi adalah interaksi yang muncul ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dan nilai budaya mereka.Mitos dapat dikatakan sebagai idiologi dominan pada waktu tertentu. Mitos adalah sebuah kisah yang melaluinya sebuah budaya menjelaskan dan memahami beberapa asfek realitas.

DISCOURSE THEORY (TEORI WACANA)
Teori Wacana dalam pengembangannya terdiri dari dua prinsip yang pertama yang berorientasi secara linguistik, kedua yang berorientasi secara sosial

IMAGE THEORY (TEORI CITRA)

Citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi.

Citra dapat diartikan:
-Kata benda; gambar, rupa, gambaran,
-Gambar yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi perusahaan, organisasi atau produk,
-Kesan mental atau tayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau kalimat.

Ada beberapa jenis citra:
-Citra bayangan (mirror image), melekat pada orang dalam suatu anggota organisasi, biasanya pemimpinnya.
-Citra yang berlaku (current image) pandangan yang dianut oleh pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi,
-Citra yang diharapkan (wish image) citra yang diinginkan oleh manajemen,
-Citra perusahaan (corporate image),
-Citra Majemuk (multiple image).

ANALISIS FRAMMING

Robert N. Entman, Todd Gitlin, David E. Snow & Robert Benford, Amy Binder.

-Analisis Framming merupakan pendekatan untuk melihat bagaimana realitas dibentuk dan dikontruksikan oleh media,
dengan cara adanya bagian tertentu dari realitas yang lebih ditonjolkan untuk mudah dikenal.
-Sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh media dengan menekankan bagian tertentu, menonjolkan asfek
tertentu dan membesarkan cara bercerita tertentu dari realitas atau peristiwa.
Dimensi Analisis Framming

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s